Tuesday, February 28, 2012

Kerajaan Pontianak Bukan Kerajaan Sekular.

Masjid Jami Pontianak dipandang dari jembatan Kapuas
CATATAN PERJALANAN: Kalimantan siri 2

HANG di mana la nie? Dok buat apa?


"O maaf, aku takdan bagitau hang. La ni aku ada di sebuah masjid tua bersejarah, Masjid Kesultanan Pontianak, di Kota Pontianak Kalimantan Barat. Baru lepas sembahyang Magrib." Aku jawab telefon dari Encik Shukri kawanku di KL semalam.
Keraton Kadariah Pontianak foto www.google.com
Keraton Kadariah Pontianak

Aku berada di komplek keraton tempat bertahta megah hingga kini, sebuah masjid Jami
Kesultanan Pontianak. Masjid yang dibangunkan pertama kali oleh sultan pertama dan pengasas kesultanan. Iaitu Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie. Masjid awal mulanya sejarah kota Pontianak, yang setiap tahun diperingati sebagai hari lahir kota Pontianak, ibukota Propinsi Kalimantan Barat. Masjid Jami tua tersebut kini dinamai sesuai dengan namanya sebagai Masjid Sultan Abdurrahman Pontianak.

Jelas terasa kedinginan angin malam meniup lembut dari Sungai Kapuas, dari halaman masjid, yang berada di dalam lingkup Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis Kecamatan Pontianak Timur. Berada di kawasan pemukiman padat penduduk dengan Pasar Ikan, begitu dekat ke bangunan masjid yang menghadap ke Sungai Kapuas.

Masjid Jami’ yang dapat di jangkau dengan menggunakan sampan dari pelabuhan Seng Hie atau dengan kendaraan darat melewati jembatan kapuas.
Tak cukup di dalam masjid, di padang dan di dalam sampan mereka tetap sholat berjamaah

Masjid Jami Pontianak dari arah Sungai Kapuas dengan latar depan perahu motor yang merupakan salah satu moda transportasi di kota Pontianak

Menyembul diantara rumah rumah penduduk kampung Beting

Sultan Syarif Abdurrahman Alkadrie adalah Pendiri dan Sultan pertama Kerajaan Pontianak, melambangkan, seorang ulama adalah seorang kepala pemerintah yang juga pemimpin politik. Kerajaannya bukan kerajaan sekular yang memisahkan pemerintahan dengan agama dan hari akhirat.

Beliau dilahirkan pada tahun 1142 Hijriah / 1729/1730 M, putera Al Habib Husin, seorang penyebar ajaran Islam berasal dari tanah Arab. Tiga bulan setelah ayahnya wafat pada tahun 1184 Hijriah di Kerajaan Mempawah, Syarif Abdurrahman bersama dengan saudara-saudaranya bermufakat untuk mencari tempat kediaman baru. Mereka berangkat dengan 14 perahu kakap menyusuri Sungai Peniti.

Waktu dzuhur mereka sampai di sebuah tanjung, Syarif Abdurrahman bersama pengikutnya menetap di sana. Tempat itu sekarang dikenal dengan nama Kelapa Tinggi Segedong. Namun Syarif Abdurrahman berpendapat tempat itu tidak baik untuk tempat tinggal. Beliau terus mudik ke hulu sungai. Tempat mereka salat zuhur itu kini dikenal sebagai Tanjung Dhohor. Ketika menyusuri Sungai Kapuas, mereka temui sebuah pulau, dikenal dengan nama Batu Layang.

Di tempat itulah akhirnya beliau dan pengikutnya di maqamkan. Di pulau itu mereka mulai mendapat gangguan 'hantu Pontianak'. Beliau memerintahkan pengikutnya memerangi hantu-hantu itu. (Lihat Pontianak, Aku Cinta Kamu!) Setelah itu, rombongannya kembali melanjutkan perjalanan menyusuri Sungai Kapuas. Menjelang subuh 14 Rajab 1184 Hijriah atau 23 Oktober 1771, mereka sampai pada persimpangan Sungai Kapuas dan Sungai Landak.

Setelah lapan hari menebas pohon di daratan itu, maka Syarif Abdurrahman membangun sebuah rumah dan balai, dan kemudian tempat itu diberi nama Pontianak. Di tempat itu kini didirikan Mesjid Jami dan Keraton Kadariah. Akhirnya pada 8 bulan Sya'ban 1192 Hijriah, bertepatan dengan hari Senin dengan dihadiri oleh Raja Muda Riau, Raja Mempawah, Landak, Kubu dan Matan, Syarif Abdurrahman dinobatkan sebagai Sultan Pontianak dengan gelar Syarif Abdurrahman Ibnu Al Habib Alkadrie. Syarif Abdurrahman Alkadrie mangkat tahun 1707. Dibawah kepemimpinannya kerajaan Pontianak berkembang sebagai kota pelabuhan dan perdagangan yang cukup disegani. Itulah tokoh agama sebenarnya..
Rujuk juga..
  1. ^ (Belanda) (1855) Tijdschrift voor Indische taal-, land- en volkenkunde. 3. hlm. 569.
  2. ^ (Inggris) Sir Henry Keppel, Sir James Brooke (1846). The expedition to Borneo of H.M.S. Dido for the suppression of piracy: with extracts from the journal of James Brooke, esq., of Sarāwak. Harper & Brothers. hlm. 387.
Bersambung, insya Allah.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...